Wisdom From Battle: Ketika Allah Menghendaki yang Terbaik
“Perang Badr memberikan pelajaran tentang hikmah mendalam: apa yang kita hindari justru menjadi jalan yang Allah pilihkan untuk menguatkan kita.”
Ketika kafilah Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan berhasil lolos, para sahabat sebenarnya bisa saja kembali ke Madinah. Konfrontasi dengan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar kelihatan tidak terlalu diperlukan. Namun Allah berkehendak lain, sebagaimana firman-Nya:
وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ
“Kamu menginginkan yang tidak bersenjata (kafilah), padahal Allah menghendaki untuk menegakkan kebenaran dengan kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya.” (QS. Al-Anfal: 7)
Ayat ini menunjukkan bahwa keinginan manusia kadang berbeda dengan kehendak Allah. Para sahabat menginginkan jalan yang kelihatan mudah – merampas kafilah dagang – namun Allah menghendaki ujian yang lebih besar untuk memperkuat iman.
Hikmah di Balik sesuatu yang Tidak Disukai
Dalam situasi yang sekilas tampak merugikan, Allah sebenarnya sedang mempersiapkan kemenangan yang lebih besar. Inilah yang dijelaskan dalam firman-Nya:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
“Secara manusiawi, Para sahabat mungkin ‘membenci’ harus berhadapan dengan pasukan yang tiga kali lipat lebih besar. Namun justru melalui ujian inilah, Allah menunjukkan mukjizat-Nya dan memperkuat iman mereka dan pelajaran bagi generasi mendatang.”
Kisah Khalid bin Walid di Mu’tah: Ketika tiga panglima sebelumnya gugur dan situasi tampak mustahil (3.000 tentara Muslim menghadapi 50.000-100.000 tentara gabungan Romawi), Khalid yang baru masuk Islam memimpin dalam kondisi yang paling sulit. Namun justru dari situasi yang tidak ia duga itulah Allah menunjukkan kehebatannya, hingga Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai “Saiful Allah al-Maslul” (Pedang Allah yang Terhunus).
Kekuatan yang Tersembunyi dalam Ujian
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Di Badr, para sahabat mengalami ujian dalam bentuk ketakutan menghadapi musuh yang lebih kuat, kekurangan persediaan, dan risiko kehilangan nyawa. Namun justru dalam ujian inilah Allah menunjukkan pertolongan-Nya yang luar biasa:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan sesungguhnya Allah telah menolong kamu di Badr, padahal kamu adalah (tentara yang) lemah. Maka bertakwalah kepada Allah, supaya kamu bersyukur.” (QS. Ali Imran: 123)
Pelajaran untuk Kehidupan Modern
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita cara menyikapi situasi yang tidak diinginkan ini dalam sabdanya: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin! Semua urusannya adalah baik. Dan ini tidak ada pada selain mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)
“Seperti kaum muslimin di Badr yang hanya berjumlah 313 orang menghadapi 1000 pasukan Quraisy, kita pun sering merasa tidak siap menghadapi ujian hidup yang datang. Namun justru dalam momen-momen inilah Allah ingin menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya ada dalam diri kita.”
Kepercayaan Penuh pada Takdir Allah
Al-Quran mengajarkan kita untuk bertawakal dalam situasi apapun:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ
“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.” (QS. At-Talaq: 3)
“Perang Badr memberikan pelajaran penting bahwa terkadang jalan yang kita takuti justru adalah jalan yang Allah pilih untuk kebaikan kita. Bukan karena Allah ingin menyusahkan kita, tetapi karena Allah tahu potensi terbaik yang ada dalam diri kita hanya akan muncul ketika kita berani melangkah keluar dari zona nyaman.”
Refleksi Akhir
Ketika hidup membawa kita pada situasi yang tidak kita rencanakan, ingatlah firman Allah dan hikmah dari kisah para sahabat. Mungkin inilah saatnya Allah ingin menunjukkan kekuatan tersembunyi dalam diri kita. Seperti pedang yang ditempa dengan api, karakter kita dibentuk melalui ujian yang tampak berat namun sesungguhnya adalah jalan menuju kematangan dan kekuatan sejati. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyiapkan diri kita dengan baik sembari menjauhkan hati kita dari sifat lemah dan malas sebagaimana yang rutin kita bacakan dalam wirid-wirid harian kita
Daftar Pustaka
- Ar-Raheeq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah) – Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri
- Al-Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir, Sejarah Permulaan dan Akhir
- Fiqh As-Sirah – Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi
Tinggalkan Balasan