Site icon HAYYUNADIRA

MENEMUKAN KEBAHAGIAAN SEDERHANA

bunda dan fatih hayyun
Istirahat di Sela-Sela Badai: Menemukan Kebahagiaan Sederhana dalam Keseharian

Istirahat di Sela-Sela Badai: Menemukan Kebahagiaan Sederhana dalam Keseharian

“Di sela-sela keletihan ada istirahat yang menenangkan. Bahagia itu sederhana. Dapatkan dengan hatimu yang selalu bersyukur. Bukan dengan ego bukan pula dengan kepuasan semata. Jangan lupa bahagia”

Istirahat di Sela-Sela Badai

Kita hidup di dunia yang berputar cepat hingga terkadang kita lupa cara untuk berhenti sejenak. Setiap hari kita dikejar deadline untuk urusan kerjaan maupun urusan-urusan pribadi. Namun, ada pesan mendalam pada kalimat pertama quote di atas : bahwa di sela-sela keletihan sekalipun, ada ruang untuk istirahat yang menenangkan.

Penelitian dari Harvard University mengungkap bahwa pikiran kita mengembara hampir 47% dari waktu terjaga kita. Ironisnya, saat pikiran kita berkelana inilah kita justru merasa tidak benar-benar istirahat. Dari fenomena ini dapat kita simpulkan bahwa istirahat sejati bukan hanya tentang menghentikan semua aktivitas, melainkan juga menenangkan hati dan pikiran.

Ketika aku merenungkan kata “istirahat yang menenangkan,” aku teringat pada detik-detik hening di subuh hari sebelum dunia mulai ribut. Atau momen ketika aku duduk di kamar sendirian setelah suami pergi ke kantor dan si sulung pergi ke PAUD. Istirahat yang sesungguhnya tidak memerlukan liburan jauh atau jeda total dari rutinitas. Ia hanya hadir dalam kesediaan kita untuk fokus sejenak dan melepaskan diri dari beban pikiran rutinitas kehidupan.

Revolusi Kebahagiaan Sederhana

“Bahagia itu sederhana”—kalimat ini barangkali sedikit berbeda dengan fondasi pemikiran modern kita yang terobsesi dengan pencapaian spektakuler. Kita hidup dalam mindset bahwa kebahagiaan harus besar dan layak dipamerkan di media sosial. Padahal kenyataannya tak selalu harus begitu.

Studi dari Self-Determination Theory membuktikan bahwa orang yang mengejar tujuan intrinsik—hubungan yang baik, kepribadian yang membaik, dan kontribusi sosial—mengalami kesejahteraan yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang mengejar tujuan ekstrinsik seperti kekayaan, popularitas, atau status. Negara-negara Nordic yang sering menempati peringkat teratas dalam survei kebahagiaan dunia menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari filosofi sederhana: menghargai apa yang sudah ada.

Ketika kita mempersepsikan kebahagiaan sebagai sesuatu yang sederhana, itu tidak identik dengan persepsi kebahagiaan yang murahan atau dangkal. Sebenarnya itulah kebahagiaan yang mendalam karena tidak bergantung pada variabel eksternal yang tidak bisa kita kendalikan.

Saya teringat pada mamak yang selalu tersenyum ketika melihat cucunya bermain di halaman masjid tempat mereka tinggal, atau bapak yang tersenyum bahagia ketika cucunya datang berkunjung datang ke rumah. Mereka tidak memiliki target hidup yang spektakuler, tapi mereka memiliki sesuatu yang lebih berharga : kemampuan untuk menemukan kebahagiaan dalam keseharian yang sederhana.

Syukur adalah Kunci

“Dapatkan dengan hatimu yang selalu bersyukur”—ini bukan sekadar nasihat spiritual klise. Ini adalah blueprint ilmiah untuk kebahagiaan yang telah divalidasi oleh banyak penelitian. Dr. Robert Emmons dari UC Davis, pionir riset syukur, menemukan bahwa orang yang rutin menulis jurnal syukur mengalami peningkatan signifikan dalam kesejahteraan: mereka lebih optimis, lebih sering berolahraga, mengalami lebih sedikit gejala fisik, dan tidur lebih nyenyak setiap malam.

Yang mengagumkan dari penelitian neurosains adalah bahwa praktik syukur secara literal mengubah struktur otak. Area yang terkait dengan penalaran moral, koneksi sosial, dan sistem reward menjadi lebih aktif. Perubahan ini bertahan dalam jangka waktu yang lama setelah praktik syukur dilakukan. Syukur bukan hanya mengubah perspektif—ia mengubah cara kerja otak kita.

Tapi syukur yang sebenarnya tidak menyangkal kesulitan hidup atau memaksakan menunjukkan sikap positif terus menerus. Dengan bersyukur, kita digiring untuk tetap tangguh mengambil pelajaran dalam tantangan. Ketika kita bersyukur atas udara yang kita hirup, makanan yang kita makan, kehadiran orang-orang yang kita cintai, kita tidak sedang mengabaikan problem hidup. Saat itu sesungguhnya kita sedang membangun fondasi kekuatan untuk menghadapinya.

Rumi pernah berkata, “Bersyukurlah atas luka-lukamu, karena mereka membuka hatimu pada cahaya.” Ini bukan tentang senang atas penderitaan, tapi tentang persepsi bahwa pengalaman sulit justru membawa pelajaran berharga.

Jebakan Ego dan Pencarian Kepuasan

“Bukan dengan ego bukan juga dengan kepuasan”—peringatan ini sangat relevan di era modern saat ini. Kita hidup di era yang mengagungkan pencapaian sebagai identitas, yang mengukur nilai diri dari pengakuan eksternal dan validasi sosial. Tapi riset dalam psikologi motivasi menunjukkan bahwa motivasi berbasis validasi eksternal justru mengikis kebahagiaan itu sendiri.

Ego adalah musuh kebahagiaan karena ia selalu membutuhkan perbandingan. Ego tidak pernah cukup—ia selalu memerlukan “lebih” untuk merasa worthy. Montesquieu berabad-abad lalu sudah menyadari paradoks ini: “Jika seseorang hanya ingin bahagia, itu mudah dicapai. Tapi kita ingin lebih bahagia dari orang lain, dan itulah yang selalu sulit.”

Pencarian kepuasan pun menipu karena ia menciptakan siklus yang tidak pernah berakhir. Kita mencapai satu target, merasa puas sebentar, lalu secara otomatis menetapkan target baru yang lebih tinggi. Ini yang disebut hedonic treadmill—kita terus berlari tapi tidak pernah sampai ke tujuan yang sebenarnya.

Kebahagiaan sejati muncul ketika kita melepaskan kebutuhan untuk menjadi “seseorang” di mata orang lain dan mulai menghargai siapa kita yang sebenarnya. Ketika kita berhenti bersaing dan mulai bersyukur atas pencapaian-pencapaian kecil kita. Meskipun kita hidup di bumi yang sama dengan banyak orang, sesungguhnya kita tidak sedang bersaing dengan mereka. Kita sedang menjemput porsi yang memang disediakan Pencipta Alam Semesta ini untuk kita

Urgensi Kebahagiaan “Hari Ini”

“Jangan lupa bahagia hari ini”—kalimat penutup dalam quote di atas terasa menyentil gaya hidup kita yang sering menunda. Kita terlalu sering hidup dalam paradigma “nanti”: nanti setelah lulus kuliah, nanti setelah dapat kerja, nanti setelah menikah, nanti setelah punya rumah, nanti setelah anak-anak besar. Tapi “nanti” itu tidak pernah selesai sepenuhnya karena selalu ada “nanti” yang baru.

Penelitian Harvard tentang mind-wandering menunjukkan bahwa kita jauh lebih bahagia ketika sepenuhnya hadir dalam momen, terlepas dari aktivitas apa yang sedang kita lakukan. Bahkan saat kita melakukan hal yang tidak menyenangkan pun, kita lebih bahagia daripada saat pikiran kita melayang ke tempat lain meski sambil melakukan hal yang menyenangkan.

Penutup

Tulisan ini merupakan otokritik bagiku, mengingatkanku bahwa dalam dunia yang kompleks dan cepat ini, jawaban untuk kebahagiaan sejati justru sangat sederhana. Tidak selalu tentang pencapaian spektakuler, kekayaan melimpah, atau popularitas. Cukuplah kiranya hati yang bersyukur dan kemampuan untuk menemukan kebahagiaan dalam keseharian.

Daftar Pustaka

  1. Deci, E. L., & Ryan, R. M. (1985). Intrinsic motivation and self-determination in human behavior. Plenum Press.
  2. Diener, E., Lucas, R. E., & Scollon, C. N. (2006). Beyond the hedonic treadmill: Revising the adaptation theory of well-being. American Psychologist, 61(4), 305-314.
  3. Emmons, R. A. (2007). Thanks! How the new science of gratitude can make you happier. Houghton Mifflin Harcourt.
  4. Killingsworth, M. A., & Gilbert, D. T. (2010). A wandering mind is an unhappy mind. Science, 330(6006), 932.
  5. Wood, A. M., Joseph, S., & Maltby, J. (2008). Gratitude uniquely predicts satisfaction with life: Incremental validity above the domains and facets of the five-factor model. Personality and Individual Differences, 45(4), 49-54.
Exit mobile version