Di dalam lentera jiwa,
Ada cahaya yang meredup saja,
Usang dan takut tertiup angin,
Namun tetap berusaha bersinar terang.
Mencoba membersihkan kaca bening,
Yang sudah hampir hitam menghitam,
Berdinding jelaga yang mengering,
Menutup cahaya yang tak pernah padam.
Tiba-tiba sesuatu menghembus kencang,
Kukira angin biasa berlalu,
Ternyata kotoran baru yang datang,
Menambah jelaga di dalam kalbu.
Semakin saja cahaya meredup,
Namun masih tersisa sedikit terang,
Terus bermujahadah tanpa lelah terputus,
Menghapus dosa yang mengotori yang terang.
Mari ambil wudhu dengan khusyuk!
Dirikan sholat dengan tuma’ninah!
Perbanyak tilawah yang syahdu!
Lantunkan sholawat penuh berkah!
Masukilah masjid-masjid suci,
Jangan larut dalam jual beli,
Yang melalaikan hati yang sepi,
Dari mengingat Ilahi Rabbi.
Jangan lupa peluk hangat ayah bunda,
Peluk pula pasangan halalmu,
Peluk mereka dengan doa yang syahda,
Jangan menjadi pelit dalam senyumu.
Berdoa saja kadang kita pelit,
Bagaimana nur di hati kan bertahan?
Ayo bergegas bersihkan yang kotor dan kelit,
Di sisa Ramadhan yang penuh ampunan.
Sedekahi jiwamu dengan amal,
Senyum, senyum, dan terus senyum,
Biarkan cahaya kembali normal,
Dalam lentera hati yang kembali teduh.
Tinggalkan Balasan