CERMIN RETAK DALAM JIWA

By 11 bulan lalu 6 menit membaca
Cermin Retak dalam Jiwa: Ketika Sang Penasehat Justru Membutuhkan Cermin | Hayyu Nadira
Dalam keseharian mungkin kita pernah bertemu dengan seseorang yang kerap hadir dengan banyak nasihat, namun hidupnya sendiri seringkali kontras dengan apa yang disampaikannya? Sosok yang begitu percaya diri menasehati orang lain, sementara mereka sendiri tenggelam dalam kegelapan yang tak pernah mereka sadari.

Fenomena ini bukan hal yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Dalam circle pertemanan kita, barangkali kita akan menemukan sosok seperti itu.

Ketika Ego Berkamuflase sebagai Kebijaksanaan

Dari perspektif psikologi, karakter seperti itu bisa dipahami sebagai manifestasi dari superiority complex. Ini merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri dimana seseorang menutupi perasaan inferior dengan menampilkan sikap superior yang berlebihan. Carl Adler, psikolog ternama, menjelaskan bahwa orang-orang dengan karakter ini sebenarnya sedang berjuang melawan perasaan tidak berharga dalam diri mereka.

Mereka membangun benteng ego dengan cara:

  • Memberikan nasihat dengan orientasi untuk merasa lebih pintar dan berharga
  • Fokus pada kesalahan orang lain
  • Sikap menggurui sebagai topeng untuk menyembunyikan perasaan insecure pada dirinya

Empati Semu

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika superiority complex hadir bersama ketiadaan empati. Meski sering menasehati orang lain, mereka sendiri mengalami apa yang psikolog sebut sebagai empathy deficit disorder. Mereka mampu berbicara tentang empati secara konseptual, namun gagal mengaplikasikannya dalam interaksi nyata.

Ciri-ciri empati semu ini meliputi:
  • Ketidakmampuan membaca situasi emosional orang lain
  • Memberikan “solusi” tanpa memahami konteks masalah
  • Mengukur keberhasilan dari perspektif diri sendiri, bukan dari sudut pandang yang dinasehati

Perspektif Al-Qur’an

Islam dengan tegas memperingatkan tentang bahaya orang-orang yang mengatakan apa yang tidak dia kerjakan. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Shaff: 2-3)

Al-Quran juga menceritakan tentang Pemuka Agama Bani Israil yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun melupakan diri mereka sendiri:

“Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu berpikir?”
(QS. Al-Baqarah: 44)

Ayat ini menjadi autokritik bagi mereka yang gemar memberikan pencerahan tanpa terlebih dahulu mencerahkan jiwa mereka sendiri.

Adab Memberi Nasihat dalam Islam

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa nasihat yang baik harus dilandasi dengan:

  • Ikhlas dan niat yang baik: Bukan untuk menunjukkan superioritas
  • Hikmah dan kebijaksanaan: Memilih waktu dan cara yang tepat
  • Kasih sayang: Bukan untuk merendahkan atau mempermalukan

Ketika Nasihat Merusak Hubungan

Karakter seperti ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak hubungan sosial di sekitarnya. Ketidakkonsistenan antara nasihat dan perilaku menciptakan hal-hal sebagai berikut:

  • Hilangnya kredibilitas: Orang akan sulit mempercayai nasihat dari seseorang yang tidak mengamalkannya
  • Munculnya sikap defensif: Orang yang dinasehati akan merasa diserang dan cenderung menutup diri
  • Perpecahan dalam komunitas: Ujung dari semua itu adalah perpecahan

Siklus Negatif yang Berkelanjutan

Yang lebih berbahaya, pola ini menciptakan siklus negatif baik bagi sosok si penasehat maupun orang-orang yang jadi objek nasehat mereka yaitu:

  1. Sang penasehat semakin frustrasi karena nasihatnya tidak didengar
  2. Mereka menjadi semakin agresif dalam memberikan “pencerahan”
  3. Orang-orang di sekitarnya semakin menjauh
  4. Isolasi sosial memperkuat perasaan superioritas semu mereka

Langkah Introspeksi dan Perbaikan Diri

Sikap superiority complek yang diikuti dengan nirempati ini tentunya bukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Kalau kita merasa dalam kriteria orang-orang seperti itu atau kita ingin terhindar dari sikap seperti itu tentunya bisa melakukan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Muhasabah (Introspeksi Diri)

Muhasabah pada dasarnya adalah momen deeptalk dan autokritik terhadap diri sendiri. Sudahkah langkahmu hari ini mendekat, atau justru menjauh dari-Nya?. Sudahkah kehadiranmu dinantikan, atau justru tak diharapkan.

2. Belajar Mendengar, Bukan Hanya Berbicara

Kembangkan kemampuan mendengarkan aktif. Pahami bahwa terkadang orang tidak butuh nasihat kita. Mereka hanya butuh pengertian dan dukungan emosional.

3. Praktikkan Empati Sejati

Empati bukan sekedar memahami perasaan orang lain. Tetapi juga ikut merasakan apa yang mereka rasakan serta melihat masalah dari perspektif mereka.

4. Mulai dari Diri Sendiri

Jadikan diri sendiri sebagai prioritas utama pengamalan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebaikan, tapi juga bukan berarti mengabaikan nasihat kepada sesama.

Penutup: Cermin yang Jernih untuk Jiwa yang Bersih

Seperti cermin yang jernih, jiwa yang bersih akan memantulkan kebaikan tanpa distorsi. Sementara cermin yang retak hanya akan memantulkan gambar yang terdistorsi. Ketika kita mampu melihat diri sendiri dengan jujur, barulah kita layak membantu orang lain sehingga melihat diri mereka dengan jernih pula.

“Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya dia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali(mu).”
(QS. Fathir: 18)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CERMIN RETAK DALAM JIWA - HAYYUNADIRA
Menu
Cari
Bagikan
Lainnya
0%